BUKAN DI NEGERI DONGENG

Hola~
Kali ini saya akan sedikit membahas tentang sebuah buku yang ‘cukup’ lama terbit.
Tapi isinya sangat =w=)b
Yak~ Judulnya adalah “BUKAN DI NEGERI DONGENG” Kisah nyata para pejuang keadilan.

bdnd#1

Identitas Buku

  • Judul Buku : Bukan di Negeri Dongeng Kisah Nyata Para Pejuang Keadilan.
  • Penulis : Helvy Tiana Rosa, Izzatul Jannah, dkk.
  • Penerbit : PT Syaamil Cipta Media.
  • ISBN : 979 3279-88-x

 

Sedikit kata dari saya, buku ini membuat berbagai kisah nyata para pejuang keadilan. Isinya sangat menarik dan membuat saya tersentuh =w=)b Jika memungkinkan, Anda harus membacanya! šŸ˜€

Langsung saja sedikit buka-bukaan tentang buku ini dari saya :v
____________________________________________________________________________________
PENGANTAR

Apakah Anda memiliki teman yang mempunyai sifat dan sikap yang bagi Anda terasa mengesankan dan istimewa? Adakah Anda mengenal orang yang memiliki akhlak sangat mulia, misalnya : sangat adil, jujur, penuh cinta, mementingkan orang lain, dan sebagainya?
Mungkin Anda akan menjawab, “Orang seperti itu kan hanya ada di zaman dahulu kala, zaman para nabi!” Sementara diam-diam Anda menyimpan rindu. Begitu mendera. Lantas tiba-tiba Anda pun bergumam, “Bukan sekedar teman, bahkan negeri ini sangat membutuhkan orang-orang seperti itu!”
Buku ini mengulas kisah-kisah nyata para pejuang keadilan di negeri ini. Mungkin banyak orang bilang bahwa para pejuang keadilan hanya ada di negeri dongeng. Tidak, mereka salah. Para pejuang keadilan ada di tengah-tengah kita. Oleh karena itu buku ini diberi judul “Bukan di Negeri Dongeng”.
Sungguh, tak berlebihan bila saya katakan bahwa Bukan di Negeri Dongeng akan mengasah nurani dan meninggalkan sesuatu di batin Anda usai membacanya : pencerahan, getaran, rasa takjub, cinta, dan dorongan untuk berbuat serupa.
Akhir kata, selamat membaca dan nantikan seri berikutnya. Kita semua mendambakan indahnya keadilan dalam hidup ini. Maka, tak ada lagi keraguan di hati : “Mari bersama menjadi pejuang keadilan!”
____________________________________________________________________________________
Di post ini, saya akan menshare beberapa kisah yang menurut saya sangat menyentuh dan memiliki makna mendalam. Mungkin tidak akan terlalu banyak, tapi semoga kalian dapat mengambil makna dari kisah-kisah ini šŸ˜€

Buku ini dibagi menjadi 6 bagian :

  • SIKAP DAN SUDUT PANDANG
  • CINTA DAN PENGORBANAN
  • KEYAKINAN
  • PERHATIAN DAN PERSAUDARAAN
  • MAKNA DAN PENGAJARAN
  • SAKIT DAN KEMATIAN

Dari setiap bagian tersebut, Insya Allah saya akan menuliskan 1 cerita atau lebih yang menurut saya paling bagus =w=)b
Selamat membaca šŸ˜€
____________________________________________________________________________________
SIKAP DAN SUDUT PANDANG

REZEKI MILIK SIAPA?
Sosoknya tinggi besar, ada bekas sujud pada keningnya. Gaya bicara yang lembut tetapi tegas adalah ciri yang melekat padanya. Mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia) wilayah Jawa Tengah ini sudah berdakwah sejak remaja. Sosoknya yang sederhana, gampang belas kasih pada kaum dhuafa adalah sosok istimewa di tengah-tengah gemerlapnya fasilitas anggota Dewan. Ya, Pak Zubair Syafawi kini adalah anggota legislatif DPRD I Jawa Tengah dari Partai Keadilan.
Tahun ini, beliau dicalonkan menjadi gubernur/wakil gubernur Jawa Tengah. Tahukan Anda, beliaulah calon gubernur/wakil gubernur yang memiliki harta paling sedikit? Aset kepemilikan beliau ketika dihitung hanya sejumlah 20 juta! Tidak lebih! Masya Allah. Saya tergugu mendengarnya.
Karena kebetulan saya dekat dengan keluarga beliau, saya tahu Pak Zubair dan Bu Dyah adalah sepasang suami-istri tangguh yang telah bertekad menginfakkan seluruh hidupnya untuk dakwah Islam dan tidak sedikit pun hendak mengambil rezeki lebih dari jalan dakwah yang beliau pilih.
Berputra hampir enam, rumah masih kontrak di daerah pemukiman padat, tidak memiliki kursi tamu sehingga setiap tamu diterima dengan lesehan, tidak memiliki kendaraan pribadi sehingga pergi ke mana pun – termasuk ke kantor DPRD – memakai angkutan umum. Dan, tahukan Anda bahwa Pak Zubair hanya mengambil gaji dari Dewan secukupnya dan selebihnya selalu diberikan pada bendahara partai?
Ini adalah sepenggal kisah yang saya dengar sendiri dari istri beliau, Ibu Dyah Rahmawati, sepanjang perjalanan di wilayah barat Jawa Tengah.
“Bu Dyah, ceritakan pada saya tentang kemanfaatan harta duniawi,” pinta saya pada beliau.
Beliau tersenyum sambil memandang mata saya. “Harta duniawi itu kemanfaatannya tergantung pada kita. Kemanfaatannya terbagi menjadi tiga. Yang paling rendah adalah hisbusyaithan (jalan syetan), yaitu ketika kita tabsyir (menyia-nyiakan harta, bermegah-megah dan melupakan dhuafa). Tingkat berikutnya adalah intifa’ (kemanfaatan), yakni ketika kita memiliki harta dan kemanfaatannya dirasakan oleh kita, keluarga, dan sekaligus umat. Contohnya bila kamu punya mobil,” katanya pada saya, “maka itu intifa’ ketika bermanfaat tidak hanya untuk diri dan keluarga tetapi juga untuk dakwah. Nah, yang tertinggi itu fisabilillah, yakni ketika seluruh diri, keluarga, dan harta yang kita miliki kita berikan seluruhnya untuk dakwah, kita mengambil secukupnya saja, sekadarnya.”
“Jadi, Ibu tidak pernah menabung? Untuk persiapan sekolah anak-anak misalnya?” tanya saya gelisah.
Beliau hanya tertawa. Dan saya menyaksikan sendiri bahwa visi itu tidak sekadar visi, tetapi telah menjadi karakter pada diri beliau berdua. Suatu saat, Pak Zubair mendapatkan rezeki yang banyak, lebih dari kebutuhan sehari-hari keluarga mereka. Maka, beliau meletakkan rezeki itu di atas meja.
“Pak, mengapa uang begitu banyak diletakkan begitu saja di meja?” tanya Bu Dyah.
“Itu bukan rezeki kita, Bu. Semoga nanti diambil oleh pemiliknya,” kata Pak Zubair tenang. Lalu, beliau melanjutkan kesibukannya, demikian pula Bu Dyah yang telah cukup dengan keterangan Pak Zubair.
Maka, ketika hari belum menjelang siang, datanglah salah seorang tetangga Pak Zubair, seorang pengemudi becak. “Assalamu’alaikum! Pak Zubair…, tolong… tolong… saya, Pak…!”
“Wa’alaikumussalaam.. monggo, Pak…, lenggah rumiyin. Duduk dulu…! Apa yang bisa dibantu, Pak?”
“Saya… saya tidak punya uang untuk menebus anak saya dari rumah sakit, Pak.”
Masih dengan senyum menenangkan, Pak Zubair mengambil uang yang sedari pagi tergeletak di atas meja. Utuh dalam amplopnya. “Yang empunya rezeki sudah mengambil haknya, Bu,” bisik Pak Zubair pada Bu Dyah. -Izzatul Jannah

SEBUAH PERMINTAAN
Ketika proses pemilihan Bupati tahun 2000, beberapa balon bupati datang bersilaturahmi sambil meminta dukungan pada Azhar Fauzi Said, anggota DPRD Kabupaten Karawang dari Partai Keadilan. Mereka menjanjikan – bahkan menawarkan – berbagai hadiah bila Azhar mau mendukung percalonan mereka.
Salah seorang balon datang dengan menawarkan sesuatu yang sangat menggiurkan. “Pak Azhar, kami ingin memberi Bapak sesuatu. Kira-kira apa yang Bapak mau? Rumah? Mobil? Dibangunkan pesantren? Masjid? Apa saja…, Bapak tinggal sebutkan.”
Azhar memandang orang di hadapannya saksama. “Anda jangan bercanda,” katanya kemudian.
“Tidak, Pak. Saya tidak bercanda. Ini serius.”
Dengan tidak enak hati, Azhar berusaha mengalihkan pembicaraan. Namun sang Balon Bupati justri makin mendesaknya. Akhirnya, Azhar berkata, “Anda tak akan sanggup memenuhi keinginan saya, Pak.”
“Tak sanggup? Tidak, Pak Azhar, kami akan mengusahakannya, apa saja untuk Bapak.”
Azhar tersenyum. “Baiklah, bila Anda memang serius….”
“O, saya memang serius sekali!” sambung sang Balon.
“Kalau rumah dan mobil, meski sederhana, alhamdulillah saya sudah ada. Pesantren di sekitar kita sudah banyak, masjid juga tersebar di banyak tempat. Semua bisa saya kunjungi. Yang belum tinggal satu….”
“Apa itu, Pak?” kejarnya.
Azhar menyorongkan sedikit badannya ke arah balon tersebut. Setengah berbisik ia berkata, “Surga.”
Balon bupati itu tertawa. “Jangan bercanda, Pak.”
“Saya tidak bercanda. Ini serius,” balasnya.
Sang Balon tergeragap. Diam. Dengan perlahan, Azhar menjelaskan tentang surga. Intinya adalah, bila sang Balon berusaha keras untuk menjadi orang baik di mata Allah dan masyarakat yang dengan itu kemudian mendapat kans untuk meraih surga-Nya, maka tentu Azhar akan mendukungnya. Bila tidak, ya tidak.
Dengan berbagai perasaan, akhirnya sang Balon meninggalkan rumah Azhar. Permintaan macam apa itu? pikirnya.
Di depan pintu rumah, sambil menatap mobil sang tamu yang berlalu, Azhar bertekad untuk teguh. Ya, ia akan terus meminta surga.
Hari itu, langit Karawang sangat cerah. – Helvy Tiana Rosa, Azhar Fauzi Said

NIKMAT YANG TAK HABIS DISYUKURI
Tahukan Anda apa yang membanggakan saya dari seorang Kinan Nasanti?
Setiap orang merasa aman memercayakan rahasia mereka padanya! Begitu banyak teman(bahkan yang baru mengenalnya) menjadikannya tempat curhat.
“Saya sudah cerita semua masalah saya pada Kinan, Mbak,” kata Vita.
“Aku ceritakan saja semua pada Mbak Kinan,” tutur Dian.
“Aku sampai nangis, lho, curhat ke Kinan,” kali ini Wida.
“Mbak Kinan, aku mau ceritaaaa….”
“Nan, ada waktu nggak untuk dengar ceritaku?” tanya Ika.
Dan, apa yang dilakukan Kinan?
Ia mendengar dengan telinga dan hati sekaligus. Ia tidak semata menunjukkan simpat, tapi empati. Ia berusaha mencari solusi atau memberi nasihat yang berarti. Lebih dari itu, komitmen.
“Insya Allah kita hadapi bersama, ya. Saya akan bantu. Semoga Allah memberi kekuatan.”
Tapi tahukah Anda siapa Kinan sebenarnya?
Ia hanya seorang muslimah biasa dengan tubuh yang sangat mungil (serupa anak saya yang menjelang kelas II SD). Hari-harinya adalah cobaan. Ayahnya sudah meninggal. Sang ibu sakit-sakitan. Ia masih harus menghadapai seorang kakak yang tidak stabil secara mental serta seorang adik yang sakit jiwa! Belum lagi masalah lainnya. Dan, ia menghadapi semua dengan ketabahan luar biasa.
Bagaimana bisa? pikir saya.
“Allah, Mbak. Allah tempat bersandar yang sejati. Ia pasti tak akan membiarkan hamba-Nya. Ia tak akan membiarkan saya, Mbak,” katanya suatu ketika.
Di tengah dera cobaan, ia bisa lulus kuliah dari Universitas Indonesia dengan nilai baik. Ia mengajar di sebuah pesantren dan dicintai begitu banyak muridnya. Ia masih sempat bekerja di sebuah penerbitan, menulis untuk beberapa majalah dan antologi cerpen bersama, membina majelis taklim, menjadi pengurus organisasi Forum Lingkar Pena dan aktif dalam berbagai kegiatan Partai Keadilan di wilayahnya.
Tidak hanya itu. Hari-hari belakangan ini, ia sibuk memikirkan teman-temannya yang belum menikah pada usia menjelang atau lebih dari 30 tahun, dan mencoba mencarikan untuk mereka lelaki muslim yang baik. Tidak memikirkan diri sendiri. Tidak rendah diri karena tubuh mungilnya. Hanya kerendahan hati. Tak ada duka karena derita. Hanya mata yang berbinar dan senyum saat bertemu kami.
Tahukah Anda kalimat yang sering ia ucapkan kala bersama kami?
“Mahabesar Allah yang memberi saya kenikmatan yang tak habis untuk disyukuri.” – Helvy Tiana Rosa
____________________________________________________________________________________
CINTA DAN PENGORBANAN

PERTOLONGAN ALLAH ITU DEKAT
Spanduk bertuliskan “Bakti Sosial Maulid-Pos Wanita Keadilan” itu masih terbentang tepat di depan kantor DPC PK-Sejahtera kecamatan Cimanggis. Di sebelahnya berjajar sepasang umbul-umbul warna-warni dan tiga buah bendera PK-Sejahtera yang berkibar-kibar tertiup angin sore.
Asma memandangnya dengan raut berbinar. “Alhamdulillah, usai sudah perhelatan itu,” gumamnya. Ada gurat syukur di sana. Raut syukur itu telah mengalahkan lelah yang bertumpuk selama hari-hari persiapan. Bahkan bayi di dalam rahimnya yang berusia 6 bulan seolah ikut mendengarkan kesyukuran yang sama. Ah, dia tahu, sang ibu tengah mendidiknya : “Inilah jihad, Anakku. Bukan dengan senjata, tapi dengan berbagi bahagia kepada para dhuafa di milad Baginda Rasulullah tercinta.”
Padahal, di hari-hari menjelang pelaksanaan bakti sosial itu, kegamangan sempat menghantui dirinya. Ia ingat betul betapa dua hari menjelang hari H ia hanya menggenggam uang dua ratus ribu rupiah saja, sementara kebutuhan minimal Rp 10 juta. Dari mana ia akan mencari tambahannya? Padahal ratusan undangan telah disebar, Pak Camat akan meresmikan. Pak Lurah, RT, RW serta puluhan tokoh akan hadir. Oh…, sekilas kepanikan sempat menyergapnya kalaulah ia tidak mengingat ayat Allah : Yaa ayyuhalladzina amanu in tanshurullah yanshurkum wa yutsabit aqdamakum… (QS 47:7)
Ia sadar betul bahwa apa yang tengah ia lakukan adalah bagian dari ibadah. Dan ia memahami bahwa partai tempat ia berkiprah adalah partai yang menjadikan dakwah sebagai panglima, ketinggian kalimat Allah sebagai tujuan. Karenanya, ia tak ragu sedikit pun untuk mengadu kepada Sang Pemilik Segala seraya memohon pertolongan-Nya.
Dan kini ia telah menyaksikan datangnya pertolongan itu. Benar saja, berbekal mobilisasi, doa, langkah-langkah ikhtiar itu akhirnya mendatangkan pertolongan.
“Bu, biar saya saja yang membayar sewa tenda….”
“Saya ingin menyumbang kacang hijau untuk para balita….”
“Sudah, snacknya saya saja yang nanggung. Dua ratus boks cukup nggak, ya? Kalau kurang bisa ditambah….”
Dan kini, di akhir pesta untuk rakyat itu, masih tersisa sejumlah uang dan bahan-bahan yang cukup untuk modal perhelatan berikutnya. Allahu Akbar!
Ternyata syukur itu bukan milik Asma semata. Di sana ada Maryati, Wiwit, Upi, Herni, juga Cia yang tengah hamil tua serta panitia lain yang masih sibuk mengemasi sisa perhelatan yang digelar sejak pagi tadi. Wajah-wajah itu tak henti-hentinya menebar senyum sambil berceloteh riang.
“Alhamdulillah, kita bisa bantu warga miskin, ya….”
“Pasien yang berobat ada seratus lebih, lho…..”
“Pakaian bekas laku keras, ya…, kasihan rakyat miskin hanya bisa beli baju bekas…..”
“Sembakonya juga habis. Subhanallah….”
Kesyukuran itu juga menjadi milik Rina –sang ketua panitia– meski berselimut duka. Ia tidak dapat menghadiri puncak acara karena tadi malam harus berangkat menuju Purworejo. Ibu mertua tercinta kembali ke haribaan Ilahi Rabbi…. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Mereka adalah sosok-sosok pribadi yang sadar bahwa apa yang mereka lakukan bukan untuk meraih popularitas dan ambisi politik, tetapi lebih karena panggilan nurani dan kebutuhan untuk beramal shalih, bekal berjumpa Sang Khalik kelak. – Sri Utami

Pause dulu di sini -____- Insya Allah akan saya lanjutkan besok šŸ˜€ Jangan sampai terlewatkan šŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s